Pengantar Oleh Imam B. Prasodjo, Ph.D
Direktur Center for Research on Intergroup Relations and Conflict Resolution (CERIC)
 

Setelah jatuhnya Presiden Suharto di tahun 1998, Indonesia memasuki tahap sejarah begitu penting. Era reformasi telah menghantarkan Indonesia pada era pemerintahan lebih demokratis dengan ditandai oleh terselenggaranya Pemilihan Umum langsung para anggota legislatif dan eksekutif yang lebih bebas dan terbuka. Otoritarianisme panjang yang sebelumnya menimbun begitu banyak masalah, segera direspons dengan upaya reformasi menyeluruh, yang mencakup tidak saja aspek-aspek politik, ekonomi, sosio-kultural, dan keamanan, namun juga reformasi sistem hukum di Indonesia. Oleh karena itu, untuk pertama kalinya kita saksikan dalam sejarah Indonesia, berbagai perubahan di bidang hukum terjadi, tidak saja perubahan perundangan-undangan dan peraturan pemerintah, namun yang lebih substansial, perubahan konstitusi negara. Maka, derap perubahan pun kini terus bergulir, dan secara bertahap diharapkan dapat membawa kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Namun tak dapat dipungkiri, di tengah tumbuhnya harapan tatanan kehidupan Indonesia yang lebih baik ini, tantangan berat harus dihadapi. Berbagai peristiwa tragis telah terjadi, seperti Kerusuhan Mei 1998, Bom Bali 2002, Bom Hotel Marriott Jakarta 2003, Bom Kuningan Jakarta 2004, serta berbagai kerusuhan bernuansa etnik dan agama yang memakan begitu banyak korban, sebagiamana terjadi di Ambon (Maluku), Sampit dan Sambas (Kalimantan) serta Poso (Sulawesi). Bangsa Indonesia juga harus menanggung beban sejarah kekerasan yang begitu berat akibat beruntunnya peristiwa kekerasan yang terjadi di Papua dan Aceh.

Belum pula kita dapat lepas dari beban sejarah kekerasan ini, bangsa Indonesia harus menanggung beban penderitaan lebih berat akibat bencana alam besar yang terjadi beruntun. Bencana akibat gempa bumi, tanah longsong, banjir, pembakaran hutan, dan tsunami, terus terjadi silih berganti. Kini, Indonesia pun sempoyongan digebrak musibah demi musibah yang memakan begitu banyak korban harta dan jiwa. Penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 220 juta jiwa seperti menjelma menjadi ”kerumunan besar” yang tak berdaya mengatasi berbagai masalah.

Dalam konteks inilah, buku Direktori Peacebuilding Indonesia edisi ke-2 ini diterbitkan. Kita menyadari sepenuhnya, kerumunan besar rakyat Indonesia harus menggalang diri, mentransformasikan keberadaannya menjadi baris-barisan sosial yang tertata rapi untuk melakukan kerja mencari solusi. Rakyat Indonesia harus berbaris dalam organisasi-organisasi yang memiliki visi dan misi jelas. Satu sama lain dari barisan organisasi ini harus bersinergi, berbagi tugas untuk mencapai satu tujuan luhur--menciptakan Indonesia yang demokratis, bebas dari pelanggaran hak-hak azasi manusia, berkeadilan, dan penuh kedamaian.

Pada buku edisi pertama Direktori Peacebuilding Indonesia, memuat nama, alamat, dan program-program dari 465 lembaga swadaya masyarakat (LSM) maupun pemerintah. Dalam edisi ke-2 ini, dilakukan penelusuran ulang terhadap LSM dan lembaga pemerintah itu. Dicoba dilakukan updating dengan melakukan pendaftaran kembali sehingga keberadaan dari setiap lembaga benar-benar dipastikan. Dari proses panjang ini, akhirnya diperoleh 301 organisasi yang terdiri dari 273 organisasi masyarakat sipil, 30 lembaga donor dan lembaga internasional, serta 8 lembaga penyedia training.

Apa kegunaan dari daftar nama-nama lembaga yang terhimpun dalam buku ini? Dengan kita menyadari bahwa permasalahan berat tengah dihadapi bangsa ini, kita membutuhkan inisiatif, upaya, dan kepemimpinan kolektif (collective leadership). Kita memerlukan sinergi berbagai kekuatan yang ada dalam masyarakat. Kita perlu menggalang kerjasama lebih erat sehingga tercipta jaringan besar antara unsur pemerintah, masyarakat dan dunia usaha untuk membuat terobosan-terobosan baru mengatasi berbagai persoalan yang ada. Kita perlu banyak orang, banyak lembaga yang dapat “banyak bicara, banyak bekerja” untuk menggalang kebersamaan, menumbuhkan keinsyafan, merealisasikan gagasan-gagasan untuk penyelamatan bangsa.

Semoga, buku ini dapat membantu menumbuhkan jaringan kerja nyata untuk terciptanya sebuah gerakan kerja besar, yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh rakyat yang kini telah lama menderita.


Jakarta, 5 Maret 2007

 

> Pendahuluan.
> Bagaimana Menggunakan Direktori.

 Berita Hari Ini
Untitled Document
2003-12-07
Direktori Peacebuilding Indonesia
Pada 30 Juni 2003, CERIC FISIP UI bekerja sama dengan Catholic Relief Service (CRS) dan Cordaid, meluncurkan direktori peacebuilding Indonesia di Hotel Maharaja, Mampang Jakarta. Berita Lengkap...
 
2003-12-07
Rangkaian Workshop Manajemen Konflik
Southeast Asian Studies Program, Ohio University, bekerja sama dengan Center for Research on Intergroup Relations and Conflict resolution (CERIC) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, mengadakan beberapa lokakarya Pelatihan untuk Pelatih (Training for Trainers - TOT) bagi akademisi dan praktisi yang berasal dari pelbagai daerah di Indonesia. Berita Lengkap...
 
2004-08-23
Journalism in Conflict Setting
Salah satu komponen penting dalam upaya resolusi konflik di Indonesia adalah media. Selain diharapkan untuk menjalankan fungsi pendidikan, pemberian informasi dan hiburan, dewasa ini media juga dituntut untuk menjalankan fungsi pembangunan perdamaian dan resolusi konflik. Berkaitan dengan itu, Ohio University bersama CERIC FISIP UI dan TransTV menyelenggarakan workshop mengenai "Journalism in Conflict Setting" pada 3-5 Agustus lalu. Seluruh materi bisa didapatkan di CERIC FISIP UI. Berita Lengkap...
 
2004-10-08
Selamat Bergabung!
Selamat bergabung CSIS, PUKUM, PEI Berita Lengkap...
 
2005-03-13
EMPAT PERHATIAN UTAMA NURANI DUNIA UNTUK KORBAN GEMPA DAN TSUNAMI DI ACEH DAN SUMATERA UTARA
Gempa dan tsunami yang menimpa Aceh dan Sumatera Utara, 26 Desember lalu telah menggerakkan gelombang solidaritas yang luar biasa, tidak saja dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Berita Lengkap...
 
2005-04-08
Koordinasi Penanganan Bencana: Salah satu Tantangan bagi Pekerjaan Peacebuilding di Indonesia
Usaha-usaha pembangunan perdamaian (peacebuilding) di Indonesia senantiasa berjalan dinamis dan penuh tantangan. Contoh terkini dari dari tantangan tersebut adalah pada saat terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara pada Desember 2004 yang lalu, yang kemudian disusul oleh gempa lagi di Sumatera Utara, khususnya Nias . Bencana alam yang kerusakannya oleh banyak pihak disebut sebagai yang terburuk semenjak Perang Dunia II ini, memunculkan banyak fenomena. PBB mencatat bahwa jumlah bantuan yang dijanjikan oleh komunitas internasional merupakan yang terbesar sepanjang sejarah. Berita Lengkap...
 
2005-04-27
Peluncuran Situs Program Penelitian dan Analisis tentang Konflik dan Pengembangan Masyarakat (www.conflictanddevelopment.org).
Program Analisis dan Penelitian Tentang Konflik dan Pengembangan Masyarakat merupakan sebuah prakarsa dari Unit Pembangunan Sosial Bank Dunia, Jakarta. Menggunakan gabungan metode penelitian empiris dan Analisa mendalam, program ini berusaha menggali lebih jauh bukti-bukti Konflik di Indonesia, serta hubungan antara konflik, kemiskinan (penanggulangan) dan pembangunan. Tujuannya adalah untuk memperbaiki disain dari program, proyek, dan kebijakan-kebijakan pembangunan yang diarahkan untuk mengurangi kemiskinan dan menangani konflik. Berita Lengkap...
 
2005-04-29
Penghargaan untuk LSM se-Asia Pasifik 2005: Merayakan Kesuksesan, Menghargai suatu Kemampuan
Citigroup dan Resource Alliance meluncurkan penghargaan untuk LSM se-Asia Pasifik yang kedua. Penghargaan pertama telah diadakan pada 2004 lalu. Acara ini disponsori oleh Citigroup dan dilaksanakan oleh Resource Alliance, bertujuan untuk mengenal dan menghargai profesionalitas dan kesuksesan dari para organisasi nirlaba di Asia Pasifik. Para pemenang akan mendapatkan hadiah menarik, termasuk peserta yang satu negara dengan pemenang. Berita Lengkap...
 
2005-05-20
Indonesia: Mengatur Desentralisasi dan Konflik di Sulawesi Selatan (Ringkasan dan Rekomendasi)
Apa yang telah menjadi dampak program desentralisasi radikal Indonesia yang telah diluncurkan pada tanggal 1 Januari 2001, tentang pencegahan dan manajemen konflik? Studi kasus tentang kabupaten Luwu di Sulawesi Selatan ini menemukan bahwa hasilnya positif. Tetapi tetap menjadi pertanyaan apakah hasil ini berkesinambungan – dan apakah sukses Luwu bisa ditularkan ke tempat-tempat lain. Berita Lengkap...
 
2005-09-27
KOMPENSASI KENAIKAN BBM BAGI KK MISKIN: Banyak Warga Mlarat

Keputusan Pemerintah menyalurkan subsidi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Rp 100 ribu per kepala keluarga (KK) miskin, memunculkan fenomena tersendiri di lapangan Semisal, di Desa Bonorowo, Kecamatan Bonorowo, Kabupaten Kebumen, mendadak banyak warga yang mengaku miskin. Mereka berduyun-duyun mendatangi kantor desa setempat untuk meminta didaftar sebagai warga miskin.

Hal itu terungkap dalam Seminar ‘Membebaskan Desa dari Kemiskinan yang diselenggarakan Institut Studi Untuk Penguatan Masyarakat (Indipt) Kebumen, Rabu (21/9), di aula Departemen. Agama Kebumen. Tampil sebagai pembicara, Muhammad Barori MSi, staf pengajar STPMD ‘APMD’ Yogyakarta. Akhmad Murtajib SAg, Direktur Indipt Kebumen, dan Drs Sabar Irianto, Kepala Bidang (Kabid) Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kebumen.

Berita Lengkap...
 
2005-10-14
Berita Lengkap...
 
2005-10-14
Paradigma Baru Studi Kemiskinan

Oleh: Edi Suharto, Ph.D
(International Policy Fellow/Analyst, Central European University, Hungary)

KEMISKINAN masih merupakan isu sentral di Indonesia.
Meskipun kemiskinan pernah menurun tajam pada kurun waktu 1976-1996, yaitu dari 40,1%
menjadi 11,3% dari total penduduk Indonesia, orang miskin
meningkat kembali pada periode 1996-1999.

Akibat krisis multidimensi yang menerpa Indonesia, jumlah penduduk miskin pada periode 1996-1998, meningkat
tajam dari 22,5 juta jiwa (11,3%) menjadi 49,5 juta jiwa (24,2%) atau bertambah sebanyak 27,0 juta jiwa (BPS, 1999).

Berita Lengkap...
 
2005-11-22
Walhi Laporkan Ancaman Kekerasan terhadap Aktivis Lingkungan ke Mabes Polri

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) melaporkan ancaman kekerasan terhadap aktifis
lingkungan Aceh Tenggara ke Mabes Polri karena Walhi dan organisasi non-pemerintah
lainnya berupaya menghentikan penebangan liar.

"Ironis, aktifis yang melakukan upaya penyelamatan lingkungan, khususnya penghentian
praktek pembalakan liar tanpa kenal lelah justru mendapatkan ancaman," kata
pengacara Tim Pembela Aktifis Walhi Bambang Antariksa, yang merupakan salah satu yang
diancam, ketika melapor ke Mabes Polri di Jakarta, Kamis.

Berita Lengkap...
 


 
 
Anda Pengunjung ke :
24268
 
daftarkan/perbaharui organisasi anda
  Masyarakat Sipil
  Donor dan Internasional
  Penyedia Pelatihan
 
Link
Untitled Document
  Cordaid  
  Crs  
  Ohio University  
  CERIC  
  GIS  
 
indeks berita
Copyright © 2003