Direktori
Peacebuilding Indonesia ini merupakan edisi kedua dimana
edisi pertamanya terbit pada tahun 2003. Seperti untuk
edisi pertama, penerbitan edisi kedua ini juga didukung
oleh CRS (Catholic Relief Service) dan Cordaid.
Berbeda dari edisi pertama yang diterbitkan
dalam bentuk buku dan CD, maka edisi kedua ini kami
kembangkan pula ke dalam bentuk website sejak tahun
2004. Pengembangan ini dikelola oleh CERIC FISIP UI
bekerjasama dengan Ohio University.
Kita sangat menyadari bahwa nama-nama
organisasi dan atau perorangan serta alamat-alamat yang
ada dalam sebuah direktori selalu terbuka untuk mengalami
perubahan. Di antaranya disebabkan oleh adanya pergantian
nama, perpindahan alamat, kemunculan lembaga baru, atau
karena ada lembaga yang mati sama sekali. Oleh sebab
itu, usaha memperbaharui (up dating) sebuah direktori
secara reguler pada dasarnya menjadi satu keniscayaan.
Dalam kerangka ini pula penerbitan edisi kedua ini dilakukan.
Penerbitan edisi kedua ini sudah tentu
bukan sekadar untuk melakukan up dating nama-nama dan
alamat-alamat dari edisi sebelumnya; akan tetapi untuk
menjamin keberlanjutan jejaring di antara para aktivis
perdamaian serta para pendukungnya yang telah terbentuk
selama ini. Kita perlu tahu bahwa edisi pertama telah
dibagikan kepada lebih dari 1000 organisasi nasional
dan 200 organisasi internasional baik dalam bentuk bentuk
buku maupun CD. Dengan memiliki nama dan alamat lembaga
yang selalu terbarukan, nicaya para aktivis perdamaian
itu akan mampu membina kerjasama yang sudah terbangun
serta membuka kerjasama baru dengan lembaga-lembaga
baru yang baru disebutkan dalam direktori ini.
Akan tetapi mengapa suatu direktori
peacebuilding ini perlu disusun khususnya untuk masyarakat
Indonesia? Apa sebenarnya konsep yang ditawarkan oleh
direktori peacebuilding kepada kita di Indonesia?
Secara fisik direktori ini hanyalah
himpunan data mengenai nama-nama dan alamat-alamat lembaga
pendukung perdamaian. Himpunan data itu tidak akan memberikan
manfaat apa-apa jika kita tidak mencoba memberinya makna.
Dengan kata lain, nilai himpunan data dalam direktori
ini sangat bergantung pada bagaimana para aktivis perdamaian
memanfaatkannya; misalnya untuk kepentingan, pelatihan,
pendanaan, penyebaran informasi, solidaritas, mitra
kerja, dan sebagainya.
Dengan demikian direktori ini didedikasikan
untuk mendorong pembentukan jejaring di antara para
aktvis perdamaian khususnya yang berada di Indonesia,
baik untuk membangun jejaring sesama aktivis di dalam
negeri maupun mengembangan jejaring dengan rekannya
dari mancanegara. Jadi direktori ini menawarkan dan
mendorong suatu kerangka kerjasama antar lembaga perdamaian
untuk menciptakan hubungan-hubungan yang diperlukan
demi terwujudnya perdamaian dan keadilan di Tanah Air.
Jaringan kerjasama semacam ini semakin menjadi sangat
diperlukan mengingat bahwa lembaga-lembaga yang terdapat
dalam direktori ini memiliki latar belakang yang amat
beragam. Kenyataan ini sangatlah berguna untuk menyelesaikan
sumber-sumber konflik di Indonesia yang kompleks dan
multidimensional di Indonesia. Kita percaya, bahwa untuk
membangun masyarakat yang damai, diperlukan bermacam-macam
pendekatan yang bersifat lintas disiplin dan dilaksanakan
oleh para pelaku yang bekerja di tingkatan yang berbeda-beda
di masyarakat.
Berbagai macam lembaga yang terdapat
di dalam direktori ini menunjukkan dan memperjelas bahwa
berbagai kegiatan yang mereka laksanakan pada saat ini
telah memuat upaya-upaya untuk membangun perdamaian
dan keadilan sosial di Indonesia secara lintas disiplin
itu. Direktori ini memperlihatkan dan lembaga-lembaga
perdamaian yang terlibat di sejumlah besar bidang; yaitu
yang bekerja untuk memberdayakan masyarakat adat yang
terpinggirkan, menyelidiki pelanggaran-pelanggaran hak-hak
asasi manusia, mempromosikan peran masyarakat desa dalam
pembuatan keputusan di tingkat lokal, menentang perluasan
perkebunan kelapa sawit, memberikan kesempatan kepada
pemuda desa untuk mengungkapkan kreativitas mereka,
memfasilitasi pengembalian pengungsi ke dalam lingkungan
masyarakat asalnya, dan sebagainya; serta kegiatan-kegiatan
yang mungkin lebih umum dikaitkan dengan kerja-kerja
perdamaian dan konflik, seperti dialog antaragama, mediasi
dan negosiasi, dan kegiatan-kegiatan yang mempromosikan
toleransi serta pluralisme.
Memang benar bahwa tidak semua lembaga
dalam direktori peacebuilding ini berkaitan langsung
dengan kegiatan perdamaian. Namun melalui kesediaannya
nama dan alamatnya dicantumkan dalam direktori ini menegaskan
bahwa mereka memiliki tujuan yang sama: berada dalam
kerangka kerjasama peacebuilding. Dalam kerangka kerja
ini mereka dan kita semua bersedia menciptakan sinergi
dalam membangun perdamaian dan keadilan. Dengan demikian,
tema dari penyusunan direktori ini adalah "bersama
kita kuat".
B. Proses Penyusunan Direktori
Edisi Kedua
Seperti sudah dikatakan, up dating
merupakan tindakan yang perlu dilaksanakan untuk sebuah
direktori. Hal ini diperlukan agar direktori dapat mempertahankan
fungsinya sebagai sebuah living resources. Apalagi dewasa
ini semakin banyak organisasi yang terlibat baik secara
langsung maupun tidak dalam kegiatan-kegiatan peacebuilding
seperti dialog antar etnis-antar agama, promosi dan
perlindungan hak asasi manusia, transformasi konflik,
peningkatan kapasitas dalam keterampilan mediasi dan
negosiasi, kampanye perdamaian, penguatan masyarakat
sipil dan inisiatif-inisiatif lain bagi perdamaian,
maka penyusunan dan penerbitan direktori peacebuilding
edisi kedua ini sangat relevan.
Sebenarnya direktori dalam bentuk website
merupakan bentuk paling efektif karena lembaga-lembaga
perdamaian dapat mengakses langsung terhadap data yang
terbaru. Namun terdapat beberapa alasan mengapa masih
banyak orang atau lembaga yang tidak memiliki akses
terhadap website, baik sengaja ataupun karena alasan
lain, sehingga mempertahankan direktori dalam bentuk
buku ini tetap up to date merupakan hal yang penting
terutama bagi mereka yang bekerja di daerah terpencil
dan tidak memilki fasilitas untuk akses internet.
Sebagai upaya untuk meyakinkan bahwa
buku direktori ini tetap menjadi living resources dan
dapat mempertahankan fungsinya sebagai jembatan komunikasi
dan jejaring antar lembaga peacebuilding baik di tingkat
lokal maupun internasional, CERIC bekerjasama dengan
Cordaid, CRS dan Ohio University menyelenggarakan survey
untuk memonitor dan mengevaluasi efektifitas penggunaan
buku direktori edisi pertama. Hasil survey inilah yang
kami pergunakan sebagai dasar perbaikan untuk buku direktori
edisi kedua.
Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penyusunan
direktori edisi kedua ini adalah melalui penyebaran
kuesioner. Sebagai langkah pertama, kuesioner dikirimkan
kepada sekitar 1300 organisasi yang terdiri dari 465
organisasi yang terdaftar dalam direktori edisi pertama
serta siasanya adalah organisasi-organisasi yang menerima
direktori namun belum/tidak terdaftar dalam direktori.
Dari pengiriman tersebut kemudian terdapat organisasi
yang langsung merespons, ada yang kemudian kembali ke
alamat sekretariat CERIC dengan keterangan sudah pindah,
atau alamat tidak jelas. Sebagian kecil kemudian tidak
kembali sama sekali ke alamat sekretariat yang dapat
disimpulkan merupakan kesalahan teknis dari pihak kantor
pos/courier service.
Dari kuesioner yang kembali ke sekretariat
CERIC, tindak lanjut yang dilakukan adalah sebagai berikut
:
• Mencari keberadaan organisasi tersebut lewat website,
apabila ditemukan maka dilakukan tindak lanjut berupa
pengiriman kembali kuesioner tersebut melalui pos, email
atau fax.
• Meminta informasi tentang organisasi-organisasi tersebut
dari satu organisasi yang dipandang cukup kuat keberadaan
dan jaringannya di daerah tertentu
• Mengadakan pencarian lewat direktori yang dikeluarkan
oleh lembaga lain
Dari upaya tidak lanjut tersebut, respons
yang didapat cukup baik. Sebagai upaya terakhir penelusuran
dan perolehan data adalah dengan mengadakan interview
melalui telepon. Hal ini terutama dilakukan kepada organisasi-organisasi
yang berlokasi di Jakarta, mengingat banyak organisasi
yang sebenarnya ingin bergabung dengan direktori tetapi
sangat padat aktivitasnya atau kekurangan sumber daya
manusia untuk menindaklajuti kuesioner yang kami kirimkan.
| Jumlah Organisasi yang
mengembalikan kuesioner |
301 |
Jenis Organisasi berdasarkan
Direktori:
(satu organisasi dapat memiliki lebih dari satu
jenis organisasi)
|
| Lembaga Masyarakat Sipil |
273 |
| Lembaga Donor dan Lembaga
Internasional |
30 |
| Penyedia Training |
8 |
Hasil akhir dari pengembalian kuesioner
itu adalah sejumlah total 301 organisasi. Jumlah ini
memang menurun dari jumlah organisasi yang terdaftar
dalam direktori edisi pertama yang berjumlah 465, tetapi
apabila dilihat dari segi keakuratan data, maka penerbitan
direktori edisi kedua ini diharapkan dapat mendukung
pelaksanaan kegiatan peacebuilding di Indonesia dalam
kenyataan yang sebenarnya.
Walaupun hanya 25% organisasi dari
keseluruhan lembaga perdamaian yang memperoleh direktori
turut ambil bagian dalam survey ini, pendapat mereka
merupakan masukan yang sangat berharga bagi pengembangan
direktori edisi kedua ini. Minimnya respon terhadap
survey ini terutama justeru dikarenakan kurangnya keterangan
yang lebih rinci dari lembaga-lembaga yang tercantum
dalam edisi pertama.
Berdasarkan masukan dari para responden,
dapat disimpulkan bahwa sekitar 64% organisasi telah
menggunakan direktori versi buku ini untuk berbagi informasi,
penguatan kapasitas (capacity building), dan memperoleh
dukungan dari lembaga donor. Sementara 22% organisasi
lebih memilih versi CD dan sisanya yang 14% memilih
untuk mempergunakan website. Para responden juga memberikan
masukan yang penting dan bermanfaat untuk meningkatkan
penggunakan direktori ini secara lebih efektif. Sebagian
besar diantara mereka menyarankan peningkatan dalam
layout dan isi direktori yang memungkinkan mereka mendapat
informasi yang lebih spesifik tentang kerja-kerja yang
dilakukan oleh organisasi lain dan pengalaman dalam
bidang peacebuilding, informasi yang lebih rinci tentang
program pelatihan dan persyaratan yang lebih jelas untuk
mendapatkan dukungan dari lembaga donor.
Masukan penting tentang perbaikan layout
merupakan hal yang dapat diakomodasi untuk kepentingan
penerbitan direktori edisi yang kedua. Masukan-masukan
lain ,walaupun memilki kadar kepentingan yang sama,
tentunya tidak dapat diakomodasikan seluruhnya mengingat
tujuan penerbitan direktori ini adalah sebagai alat
untuk membentuk jejaring, dan tidak bermaksud untuk
menyediakan seluruh data yang dibutuhkan dan dianggap
penting oleh setiap organisasi.
C. Gambaran
umum organisasi Direktori Perdamaian Indonesia Edisi
ke-2
Jenis Organisasi
Apabila dibandingkan dengan direktori edisi pertama,
maka gambaran profil organisasi pada edisi kedua ini
tidak mengalami terlalu banyak perubahan. Organisasi
yang tergabung dalam direktori ini didominasi oleh LSM/NGO
dengan persentase 52,92%,diikuti dengan yayasan (27,38%)
dan asosiasi/perkumpulan (7,69%).
Profil Organisasi
| Jenis
Organisasi |
Total |
Persentase
|
| NGO/LSM |
172 |
52.92 |
| Yayasan |
89 |
27.38 |
| Organisasi Keagamaan |
10 |
3.08 |
| Lembaga Penelitian |
21 |
6.46 |
| Asosiasi/perkumpulan |
25 |
7.69 |
| Serikat Buruh |
1 |
0.31 |
| Lainnya |
7 |
2.15 |
Total Keseluruhan berdasarkan Jenis
Organisasi
(satu organisasi dapat memiliki lebih dari satu
jenis organisasi)
|
325 |
100 |
Kegiatan
Untuk kegiatan yang dilakukan dalam 2 tahun terakhir,
kegiatan penguatan masyarakat sipil menempati prioritas
dari organisasi-organisasi yang tergabung dalam direktori
ini(15,12%) disusul dengan advokasi/lobi (10,75%), isu
gender (9,79%), promosi HAM (8,97%) dan demokratisasi
(7,93%). Sedangkan untuk kegiatan lima tahun kedepan,
urutan tersebut tidak berubah (penguatan masyarakat
sipil: 19,25%, advokasi/lobi : 10,08%, isu gender :
9,63%, promosi HAM : 8,61%), kecuali pada posisi kelima,
yang tadinya ditempati oleh kegiatan demokratisasi menjadi
usaha-usaha promosi pemerintahan yang berwibawa dengan
persentase 6,46%.
| Kegiatan-kegiatan
2 tahun terakhir |
Total |
Persentase
|
| Promosi Hak Asasi Manusia |
121 |
8.97 |
| Pendidikan Kewarganegaraan |
76 |
5.63 |
| Advokasi/lobi |
145 |
10.75 |
| Demokratisasi |
107 |
7.93 |
| Penelitian/analisakonflik |
81 |
6.00 |
| Peringatan dini |
19 |
1.41 |
| Fasilitasi dialog |
92 |
6.82 |
| Rekonsiliasi/negosiasi/mediasi |
56 |
4.15 |
| Pendampingan korban trauma |
52 |
3.85 |
| jurnalisme perdamaian/strategi-strategi
media |
23 |
1.70 |
| Pembangunan daerah konflik |
35 |
2.59 |
| Isu gender |
132 |
9.79 |
| Penguatan masyarakat sipil |
204 |
15.12 |
| Promosi toleransi and pluralisme |
70 |
5.19 |
| Promosi pemerintahan yang berwibawa
(good governance /rule of law) |
85 |
6.30 |
| Lainnya |
51 |
3.78 |
| Total Keseluruhan |
1349 |
100.00 |
| Kegiatan-kegiatan
2 tahun Kedepan |
Total |
Persentase
|
| Promosi Hak Asasi Manusia |
76 |
8.61 |
| Pendidikan Kewarganegaraan |
44 |
4.98 |
| Advokasi/lobi |
89 |
10.08 |
| Demokratisasi |
51 |
5.78 |
| Penelitian/analisakonflik |
53 |
6.00 |
| Peringatan dini |
9 |
1.02 |
| Fasilitasi dialog |
47 |
5.32 |
| Rekonsiliasi/negosiasi/mediasi |
21 |
2.38 |
| Pendampingan korban trauma |
38 |
4.30 |
| jurnalisme perdamaian/strategi-strategi
media |
20 |
2.27 |
| Pembangunan daerah konflik |
31 |
3.51 |
| Isu gender |
85 |
9.63 |
| Penguatan masyarakat sipil |
170 |
19.25 |
| Promosi toleransi and pluralisme |
54 |
5.19 |
| Promosi pemerintahan yang berwibawa
(good governance /rule of law) |
57 |
6.12 |
| Lainnya |
38 |
4.30 |
| Total Keseluruhan |
883 |
100.00 |
Tingkat Aktivitas Peacebuilding
Perimbangan antara organisasi yang bergerak
di perkotaan dan pedesaan adalah hampir sama, mereka
yang bergerak di level perkotaan adalah sebesar 43,27%
sedangkan yang bergerak di pedesaan adalah 40,79%. Ini
menunjukkan bahwa aktivitas peacebuilding dilaksanakan
secara berimbang baik di perkotaan maupun di pedesaaan.
|
|
|
|
| Tingkat aktivitas Peacebuilding |
Total |
Persentase |
| Desa |
197 |
40.79
|
| Kota |
209 |
43.27
|
| Nasional |
63 |
13.04
|
| Internasional |
14 |
2.90
|
| Total Keseluruhan |
483 |
100.00
|
Daerah Geografis
Lima
daerah geografis utama dari tempat aktivitas peacebuilding
adalah Jawa Tengah (sebesar 8,46%),Aceh dan Papua menempati
posisi sama sebesar 6,77%, disusul dengan DKI Jakarta
dan Jawa Timur. Munculnya Aceh dan Papua merupakan hal
yang relevan dengan kondisi peacebuilding di
Indonesia saat ini. Sejak diterpa bencana tsunami pada
akhir tahun 2004, Aceh tengah menjalani proses rekonstruksi
dan rehabilitasi dimana banyak upaya-upaya peacebulding
dilakukan di daerah tersebut. Sementara untuk Papua
muncul kasus-kasus yang berkaitan dengan konflik antara
penduduk lokal dengan perusahaan multi nasional (MNC)
serta perang suku. Hal ini juga dapat menjelaskan mengapa
Maluku,yang saat ini kondisinya dapat dikatakan stabil
kemudian tidak termasuk ke dalam 5 wilayah utama derah
geografis tempat aktivitas peacebuilding.
| |
|
|
| Daerah-daerah
Geografis Utama |
Total |
Persentase |
| Bali |
14 |
2.63
|
| Bangka-Belitung |
2 |
0.38
|
| Banten |
7 |
1.32
|
| Bengkulu |
7 |
1.32
|
| Jawa Tengah |
45 |
8.46
|
| Kalimantan Tengah |
10 |
1.88
|
| Sulawesi Tengah |
15 |
2.82
|
| DKI Jakarta |
30 |
5.64
|
| Jawa Timur |
26 |
4.89
|
| Kalimantan Timur |
11 |
16.92
|
| Nusa Tenggara Timur |
24 |
4.51
|
| Gorontalo |
4 |
0.75
|
| Jambi |
6 |
1.13
|
| Lampung |
14 |
2.63
|
| Maluku |
24 |
30.77
|
| Nanggore Aceh Darussalam |
36 |
6.77
|
| Maluku Utara |
14 |
2.63
|
| Sulawesi Utara |
15 |
1.26
|
| Sumatera Utara |
18 |
3.38
|
| Papua |
36 |
6.77
|
| Riau |
13 |
2.44
|
| Kalimantan Selatan |
12 |
2.26
|
| Sulawesi Selatan |
20 |
3.76
|
| Sumatera Selatan |
8 |
1.50
|
| Sulawesi Tenggara |
20 |
3.76
|
| Jawa Barat |
20 |
3.76
|
| Kalimantan Barat |
25 |
4.70
|
| Sulawesi Barat |
4 |
0.75 |
| Nusa Tenggara Barat |
19 |
3.57
|
| Sumatera Barat |
14 |
2.63
|
| Daerah Istimewa Jogjakarta |
19 |
3.57
|
| Total Keseluruhan |
532 |
139.56
|
Sumber Pendanaan
Sumber
pendanaan merupakan salah satu komponen terpenting dalam
mengukur kinerja CSO. Data di bawah menunjukkan bahwa
ternyata CSO yang tercantum dalam direktori ini memilki
tingkat independensi ynag cukup tinggi, yang ditunjukkan
dengan persentase 34,5% dari mereka memperoleh sumber
dana secara swadaya. Hasil tertinggi ditempati oleh
sumber pendanaan yang berasal dari donor lembaga lokal
(37,96%) yang dapat mengindikasikan mulai tingginya
perhatian pihak-pihak dari dalam negeri untuk terlibat
dalam kegiatan CSO di Indonesia. Sedangkan pendanaan
dari donor lembaga internasional yang pada umumnya dipandang
sebagai sumber pendanaan utama dari CSO ternyata hanya
menempati posisi ketiga dengan 15,86%.
|
|
|
|
| Sumber Pendanaan |
|
|
| |
|
|
| Jenis Pendanaan |
Total |
Persentase |
| Donor
Lembaga Internasional |
56.00 |
| |