Untitled Document
Pilih Bahasa
 
 

Search
Anda Pengunjung ke
48416
Daftarkan/perbaharui organisasi anda
Masyarakat Sipil
Donor dan Internasional
Penyedia Pelatihan




Untitled Document
 
2008-01-31 00:00:00
Menciptakan Perdamaian Dunia
 
 

Oleh: Ahmad Muchlis Amrin*

Arnold Toynbee mencatat dalam bukunya, mankind and mother Earth: a narrative history of the world, sejarah umat manusia adalah sejarah peperangan. Putra Adam, Qabil dan Habil, telah menginspirasi pertikaian bersaudara diawal umat manusia karena termotivasi oleh kepentingan kekuasaan dan cinta dalam perkawinan silang yang ayahnya telah tentukan. Hal-hal kecil itu menurun banyak pertikaian di tingkat dunia.

Zaman Ekumene 4.300 tahun lalu mencatat kegemilangan peradaban, namun pertikaian antara kaum Sumeria dan Akkadia meledak serta mengorbankan ribuan nyawa manusia. Itu merupakan kenyataan pahit yang tentunya dapat dijadikan pelajaran penting untuk masa depan-sesungguhnya jika tidak dilupakan, masa lalu adalah panduan untuk masa depan-demikian tulisan bijak yang tertera di dinding Montreal Hall di Nanjing China.

Masyarakat pascaperang tersadarkan, mengikuti ego kekuasaan sangat nerugikan banyak pihak, baik masyarakat sipil maupun pemerintah. Namun seringkali pertikaian ‘dicipta’ dan diprovokasi untuk kepuasan kelompok tertentu dalam perluasan wilayah sebagai bukti kegemilangan peradaban sehingga clash civilization dalam bahasanya Samuel Huntington tak dapat dihindari.

Kehidupan manusia didunia hakikatnya bukan permainan dadu yang mempertaruhkan kalah dan menang, mengadu kekuatan untuk mencapai kekuasaan demi kepuasan kelompok atau Negara tertentu, melainkan memperluas garis perdamaian, cinta kasih dan toleransi (tasamuh) antarmanusia agar tercipta suasana harmonis. Kita boleh berbeda agama, budaya, Negara dan gagasan, namun kita harus mampu menghargai perbedaan dan menjaga kesejahteraan dengan meningkatkan solidaritas antarmanusia.

Bukankah manusia hidup di bumi yang sama, matahari dan bulan yang sama? Namun, setiap manusia tak mampu menerima sinar dan cahaya matahari itu secara total dan diendapkan dalam diri masing-masing. Matahari perdamaian akan menyadarkan pentingnya kebersamaan dan menjaga hubungan baik yang sejahtera antarmanusia.

Semua wujud dan sepuluh ribu ruh bersama-sama tinggal di alam semesta akan tetapi jika tiada matahari semua dengan cepat menjadi khayalan.

Penyair Jalaluddin Rumi lewat puisinya menyadari hidup bukanlah keniscayaan, melainkan setiap manusia diupayakan mampu membawa mataharinya sendiri agar dapat menerangi orang lain dengan kasih sayangnya. Orang lain bukanlah musush yang harus dibunuh, melainkan saingan untuk bereaksi agar lebih edukatif, kondusif dan kontributif.

Zaman semakin maju, teknologi informasi pun semakin pesat, ilmuwan semakin hari bertumpah. Semua itu diharapkan mampu menciptakan perdamaian di tingkat dunia, bukan menambah anarkisme dan agresivitas di berbagai lini kehidupan. Setiap saat, kita mencari pola baru yang cocok untuk diterapkan di berbagai negara-negara di dunia, penemuan-penemuan ilmiah yang mengagumkan, khususnya di Eropa dan Amerika. Tapi itu akan sia-sia bila kejeniusan itu dimanfaatkan untuk menginvasi nyawa manusia lain, untuk meluluhlantakan nyawa manusia lain justru sifat itu lebih hewan daripada hewa-hewan yang ada.

Mengingat berbagai persoalan rumit ditingkat dunia ataupun negara-negara berkembang, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk pembangunan perdamaian dunia. Pertama, mengurangi intervensi terhadap negara-negara lain, apalagi intervensi yang menyelipkan kepentingan politik. Perang Dunia I dan II terjadi karena dimotivasi sugesti politik yang mereka ingin menjadi yang terkuat di kalangan negara-negara dunia sehingga kolonialisasi ke berbagai negara menimbulkan permasalahan baru.

Ada baiknya ungkapan Lord Bryce bahwa setiap pola baru pemerintahan merupakan suatu tambahan bagi sumber daya politik umat manusia yang mewakili penyelidikan yang cermat tentang pengalamn konstitusional di masa lalu dan menghasilkan suatu eksperimen yang penuh pelajaran di masa depan. Gagasan yang berkembang sekarang memiliki cita-cita politik perdamaian bagi masa depan umat manusia agar tatanan kehidupan semakin hari tidak semakin terpuruk.

Kedua, menyehatkan kembali visi misi PBB sebagai lembaga terbesar di dunia. Artinya, menjadikan PBB sebagai lembaga yang tidak ditungggangi negara-negara tertentu apalagi diperalat untuk mencapai kepentingan negara adikuasa. Seluruh negara di dunia bersatu dalam satu prinsip membangun masa depan yang cerah bagi masyarakat sipil dari ruang lingkup ketertindasan, keterbelakangan, dan kemiskinan baik secara mental maupun harta benda.

Kekayaan alam milik rakyat tidak hanya dinikmati segelintir orang untuk kesejahteraan pribadi dan golongan sehingga krisis kepercayaan muncul kepermukaan sebagai implikasi yang kurang sehat. Sia-sia jika membiarkan kekuasaan dikuasai generasi ’rakus’ yang memelintir ketidakmampuan menangani hal-hal penting. Apa kemudia makna lembaga-lembaga kuat, seperti House of The Lord di Inggris, Council of State di Swiss, Federal Council di Jerman, dan senat dikebanyak negara lain, termasuk Australia, Kanada, Irlandia, Prancis, Italia, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat jika mereka semua tak dapat menghembuskan angin segar bagi perdamaian dunia.

Kekuasaan dibangun atas dasar keinginan rakyat untuk menjalin harmosi antarsesama agar masyarakat dunia mampu menghenyakan napas yang lega, secara psikologis tidak tertekan oleh ancaman-ancaman perang dan bencana gempa bumi dan tsunami sebagai akibat dari buruknya kinerja negara-negara adikuasa yang telah mengeksploitasi. Oleh karena itu, pada permulaan 2008, kita pelajari semua kegagalan dan kegalakan di tahun sebelumnya, penyebab pertikaian yang kemudian menjaikan tahun yang akan datang, dunia yang kita pijak lebih harmonis dan aman.

Bumi tercinta ini adalahtanggung jawab bersama. Setiap manusia seharusnya mencipta lingkungan hidup yang sehat dan nyaman tanpa ada tangisan. Pembuatan perlengkapan persenjataan, bom, nuklir, dan semacamnya tidak dicita-citakan untuk membunuh manusia yang lain, tetapi hanya sebatas capaian-capaian ilmu pengetahuan yang gemilang.

*Direktur Eksekutif The Soempah Pemoeda Institute Yogyakarta
Sumber: Media Indonesia, Kamis 24 Januari 2008, Halaman 16

 

 
 

Copyright © 2003-2009