Beirut – Ada dua artikel yang mendekati tenggat, makalah semester dan demam, ketika saya malah memutuskan untuk melupakan semuanya dan mengisi enam helai kertas yang tampak resmi, yang sudah ada di meja saya selama sepekan.
Dan kertas-kertas itu ternyata mengubah hidup saya. Mereka adalah tiket menuju dunia yang benar-benar baru dimana saya menciptakan pertemanan seumur-hidup, berjalan jauh untuk mencari persamaan, merayakan perbedaan dengan warna-warni yang berkibar, dan berdiri tegak untuk menceritakan pada orang lain tentang budaya saya.
Masing-masing di atas mendeskripsikan perubahan besar di antara banyak perubahan yang saya jalani dengan menjadi bagian dari Middle East Partnership Initiative (MEPI) Institute for Student Leaders, program enam minggu yang diorganisir oleh Departemen Dalam Negeri AS. Sebanyak lebih dari 100 mahasiswa dari 20 negara yang berbeda di Timur Tengah dan Afrika Utara terpilih untuk mengikuti program tersebut, yang dituan-rumahi oleh lima universitas Amerika: Georgetown University, Benedictine University, Montana State University, Delaware University dan Dickinson College.
Kami mengikuti sesi pelatihan kepemimpinan, belajar tentang sejarah Amerika dan berdiskusi tentang topik-topik yang sedang hangat dalam politik, ekonomi dan media di negara kami dan di AS. Kami juga berwisata belajar yang melibatkan perjalanan ke seluruh negara bagian AS - dari Timur ke Barat, dari Midwest ke Selatan.
Ketika pesawat saya lepas landas dari Beirut, dan saya sadar ini pertama kalinya saya meninggalkan negara saya sepanjang hidup saya, saya mulai bersiap-siap – mempersiapkan sesi-sesi, perdebatan, bertemu orang-orang baru, bahkan menjawab dan melontarkan pertanyaan. Namun, yang saya tidak siap adalah apa yang paling tidak saya harapkan untuk saya dapatkan dari pengalaman itu, dan yang ternyata merupakan pelajaran hidup yang paling berharga: nilai keberagaman.
Selama empat hari pertama, saya harus mengakui bahwa kami masing-masing hanya bergaul dengan orang-orang yang berasal dari negara kami sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, kami mulai keluar dari kotak kami, dengan ritmenya masing-masing. Bagi saya, itu adalah langkah pertama: mengenal “orang lain.”
Ketika kami mulai saling terbuka dan akhirnya melihat banyak perbedaan di antara kami, kami jadi gembira, bertindak sebagai duta bagi negara kami masing-masing. Kami terlibat dalam diskusi-diskusi, membandingkan dan membedakan negara kami dalam kelas-kelas, di bis, saat makan siang, saat merokok dan bahkan sebelum tidur.
Salah satu hal yang paling mengagetkan bagi saya adalah ketidakmampuan saya untuk memahami bahasa Arab peserta program lain ketika saya mendengarnya diucapkan dalam aksen non lebanon. Pada akhir program, kami sampai pada pemahaman bahwa budaya Arab sama beragamnya seperti Amerika dari berbagai negara bagian yang kami kunjungi.
Sebagai ilustrasi, seorang mahasiswa Amerika di Benedictine memperhatikan ketika kami duduk bersama-sama bahwa meskipun semua gadis Arab dalam program itu Muslim, tidak semuanya mengenakan hijab (jilbab). DI atas semuanya, bahkan gadis-gadis yang mengenakan hijab tidak memakainya dengan cara yang sama. Jawaban kami tentang mengapa kami memilih untuk mengenakannya atau tidak mengenakannya amat beragam dan mungkin kadang-kadang bertentangan. Ternyata kami punya berbagai cara untuk menerapkan keyakinan religius kami dalam kehidupan sehari-hari – meskipun faktanya kami memiliki nilai-nilai dan tradisi Arab-Muslim yang sama.
Sebenarnya kami perlu waktu untuk menerima perbedaan semacam itu dan berdamai dengan “sependapat untuk tidak sependapat”, terutama ketika diskusi menyentuh topik-topik yang sensitif. Ini adalah langkah kedua: perbedaan mengundang perayaan, bukan agitasi.
Elemen utama dalam pengalaman belajar kami adalah studi wisata. Dalam kasus kelompok peserta saya, tur ini melibatkan Washington DC, San Francisco, Boston, dan Chicago Melihat sendiri artis jalanan di San Fransisco, arsitektur DC yang hebat, dan lobster di Boston, kami membanding-bandingkan kota-kota terkenal di Amerika ini, sehingga membuat kami menyadari untuk pertama kalinya betapa berbedanya orang-orang Amerika di Amerika.
Lembah Silikon berteknologi tinggi di San Fransisco, jejak kebebasan di Boston serta hujan tak terduga Bronzeville yang terkenal di Chicago adalah pemandangan yang akan selamanya terpatri dalam ingatan kami. Tur-tur ini juga membantu kami memahami perbedaan gaya hidup yang dijalani orang-orang di kota-kota ini, cara berpikir mereka, bisnis yang mereka pilih, tujuan-tujuan dan ketakutan mereka. Kami begitu “dekat” dengan orang-orang Amerika yang berbeda sehingga saya, pernah berpikir bahwa mereka lebih cocok disebut “salad” ketimbang “melting pot”.
Saya menemukan bahwa mereka memiliki perbedaan dan prasangka sendiri yang harus diatasi. Mereka tidak semuanya menjalani American Dream. Ada orang-orang yang kami bantu membangun rumah secara sukarela, ada orang-orang yang diperlakukan secara diskriminatif setiap hari karena warna kulit mereka, bahkan orang-orang yang tidak pernah mempelajari peta dunia dengan saksama. Sekali lagi, kami mencapai satu langkah baru melalui pengalaman pribadi: hilangkan stereotip untuk selamanya.
Hanya dalam waktu enam minggu, kami mampu mencapai apa yang saya sebut tiga langkah pertukaran budaya. Sejak itu saya telah menemukan langkah keempat: “Program MEPI membuat pemerintah AS mengeluarkan sejumlah kecil dana dibandingkan anggaran yang dikeluarkan untuk perang di Irak… Mana dari kedua investasi ini yang lebih memberi kontribusi untuk menjembatani jurang antara Timur dan Barat?”
Oleh: Raissa Batakji
###
* Raissa Batakji adalah mahasiswa tahun kedua jurusan seni komunikasi dengan spesialisasi jurnalisme di Lebanese American University di Beirut. Artikel ini didistribusikan oleh Layanan Berita Common Ground (CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org.
Sumber: Common Ground News (CGNews), 18 September 2007, www.commongroundnews.org.
|